Hukum Hadiah Emas

HUKUM HADIAH EMAS

 

Ada banyak cara pedagang  atau perusahaan untuk meningkatkan penjualan barang adalah dengan memberikan hadiah berupa emas yang terkadang terpisah dengan barang dan terkadang menyatu dalam barang dalam bentuk cincin / koin emas disalah satu kemasan. Adakalanya hadiah emas diberikan kepada setiap pembeli dan adakalanya hanya untuk yang beruntung saja. Dengan cara produsen mencantumkan pada setiap kemasan bahwa pembeli yang beruntung akan memperoleh sebuah cincin / koin emas sekian gram dalam kemasan barang.

Jika emas diberikan kepada setiap pembeli, apa hukum dari hadiah seperti ini ?

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa salam melarang menjual suatu barang yang terdiri dari bahan emas dan bahan lainnya dengan emas (uang dinar). Tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar emas terlebih dahulu dipisahkan dari benda lainnya. Setelah emas dipisah maka emas ditukar dengan uang dinar (emas) dengan syarat harus sama beratnya serta tunai.

“Tidak boleh kalung emas permata dijual sebelum dipisah antara emas dan permata”. HR. Muslim.

“Emas ditukar dengan emas, harus sama beratnya”. HR. Muslim

Jika hadiah emas dengan cara diselipkan pada sebagian kemasan dan diberitahukan bahwa jika beruntung pembeli akan mendapat emas, maka orang – orang akan membeli barang sebanyak mungkin. Mereka berharap akan mendapatkan emas di dalam kemasan, selain juga mendapatkan barang yang dibeli.

Hukum pemberian dan menerima hadiah dengan cara ini diharamkan, berdasarkan dalil – dalil berikut :

  1. Hal ini termasuk qimar dan gharar, karena pembeli saat membeli kemasan barang selain bertujuan mendapatkan barang juga bertujuan mendapatkan emas. Dan pada saat transaksi pembelian dilakukan ia tidak tahu apakah emas yang diinginkan ada pada kemasan yang dibeli atau tidak. Ini dinamakan ba’i gharar (barang tidak jelas keberadaannya). Jika ternyata tidak ada emas di dalam kemasan ia rugi dan jika ada ia beruntung. Spekulasi ini dinamakan qimar (judi). Qimar dan gharar hukumnya haram.

2.Hadiah dengan cara ini juga mengajarkan masyarakat hidup boros. Mereka akan membeli barang melebihi kebutuhan dengan tujuan mendapatkan emas yang ada pada kemasan.

Semoga dapat menjadi pencerahan bagi kita semua sehingga bertambah syukur kita atas rizki Allah berupa harta yang halal.

 

Sumber : Dr. Erwandi Tarmizi, MA., “Harta Haram Muamalat Kontemporer”, hal. 311 – 313

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *